Thursday, 10 June 2010

Bisnis AMDK: Masih Tumbuh, Masih Basah


Bisnis AMDK bakal jenuh ketika volume produksi nasional mencapai 20 miliar liter. Padahal, saat ini volume produksinya baru 12,5 miliar liter. Jadi, peluang bisnisnya masih terbuka lebar. 


Sekitar 65% tubuh manusia terdiri dari air. Ini setara dengan kurang lebih 47 liter air pada setiap orang dewasa. Setiap hari, 2,5 liter dari volume air tersebut harus diganti dengan air yang baru. Dari volume air yang harus diganti, sekitar 1,5 liter berasal dari air minum.
Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, kebutuhan akan air minum pun terus meningkat. Untuk masyarakat perkotaan, hampir pasti sumber-sumber mata air yang ada tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka akan air minum. Selain karena volumenya terbatas, sumber-sumber mata air yang ada di perkotaan rata-rata sudah tercemar limbah atau bahan lainnya, sehingga tidak layak konsumsi.
Setiap masalah selalu meninggalkan peluang. Begitu pula dengan masalah ketersediaan air bersih yang layak konsumsi, yang dilihat Hendro Baroeno, wakil ketua umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), sebagai peluang. Kondisi itu membuat bisnis Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) masih menggiurkan bagi investor. Apalagi bisnis AMDK tak termasuk industri padat modal. “Jadi, banyak pebisnis yang bisa memulainya. Ada pemain besar dan ada pemain kecil,” ujarnya.
Menurut Hendro, bisnis AMDK relatif tahan banting dan terus menyisakan ruang untuk tumbuh. “Berkaca pada krisis ekonomi 1998, produksi makanan dan minuman terkena imbas paling akhir. Untuk krisis tahun ini pun, sampai kuartal I-2009, berdasarkan laporan dari anggota asosiasi, kondisi bisnisnya masih cukup baik dan mengalami stagnan. Kalau dibandingkan dengan kuartal IV-2008, selama kuartal I-2009 masih ada kenaikan konsumsi 2%‒3%,” tambah Hendro.

Itu pada skala nasional. Pada tingkat korporasi, hal itu juga tercermin dari kinerja pemain utama di bisnis ini, yakni PT Aqua Golden Mississippi Tbk. Selama 2008, meski sejak memasuki triwulan IV perekonomian Indonesia mulai diguncang oleh krisis yang berpusat di Amerika Serikat, penjualan Aqua naik terus. Pada 2008 penjualan Aqua mencapai Rp2,33 triliun, atau naik 19% dibanding tahun lalu.Jadi, bisnis AMDK bakal terus “basah”. Apalagi, papar direktur eksekutif Aspadin, Basoeki, tingkat konsumsi AMDK Indonesia juga relatif masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, apalagi dengan negara maju. “Bandingkan dengan Thailand, di sana tingkat konsumsi AMDK-nya sudah mencapai 80 liter per kapita per tahun, sementara kita masih 45 liter per kapita per tahun,” ungkapnya. Sementara itu, di negara-negara maju seperti Perancis atau Italia, tingkat konsumsi AMDK per 2005 saja sudah mencapai 140 dan 165 liter per kapita per tahun.
Menurut Willy Sidharta, mantan direktur utama PT Aqua Golden Mississippi Tbk., peluang bisnis AMDK di Indonesia memang masih sangat terbuka. ”Titik jenuh bisnis AMDK diperkirakan baru akan tercapai ketika volume konsumsi nasional mencapai 20 miliar liter per tahun atau setara dengan 80 liter per kapita per tahun,” ungkap Willy. Padahal, menurut data Departemen Perindustrian, sampai dengan 2008, volume produksi AMDK nasional baru 12,8 miliar liter—sekitar 88% dari total kapasitas produksi yang 14,5 miliar liter.
Sampai 2010, Willy memperkirakan volume permintaan AMDK nasional akan mencapai 17 miliar liter. Peningkatan volume itu dipicu oleh pertumbuhan industri yang begitu cepat, seiring dengan makin banyaknya pemain di bisnis ini. “Ini karena entry barrier atau hambatan berusaha di industri AMDK terbilang rendah dan biaya investasinya juga tidak terlalu mahal. Maka, tidak jarang sebuah perusahaan memiliki lebih dari satu merek dengan tujuan dapat meraup segmen pasar seluas mungkin. Danone, misalnya, selain mengeluarkan Aqua, juga memproduksi AMDK dengan merek Vit. Hal yang sama juga dilakukan Tang Mas dan produsen lain,” papar Willy.



Dominasi Pemain BesarMenurut Aspadin, di Indonesia ada 480 perusahaan AMDK, tetapi yang berproduksi hanya 350 pemain. Mereka ini mengusung 600-an merek AMDK. Dari jumlah itu, 165 perusahaan di antaranya merupakan anggota Aspadin.
Meski banyak pelaku bisnisnya, peta dan penguasaan pangsa pasar AMDK tidak merata. Sekitar 70% pasar AMDK ada di Jawa. Lalu, pemainnya pun ada yang besar, ada yang kecil. Namun, Basoeki menegaskan, baik pemain besar maupun pemain kecil masing-masing ada pangsa pasarnya. “Jadi, kalau ada investor AMDK mau mendirikan pabrik lagi, jangan khawatir karena pasti ada pasarnya,” tegas Basoeki.
Bagaimana peta pangsa pasar AMDK nasional? Hendro Baroeno membuat perkiraan dengan merujuk angka permintaan kemasan. Potretnya kurang lebih begini. Porsi 45%‒55% dipegang oleh merek Aqua. Lalu, pemain besar lainnya, seperti Ades, Sosro (Prim-A), Club (Surabaya dan Semarang), dan 2 Tang menguasai 30%‒35%. Selebihnya, menurut Hendro, dikuasai oleh merek-merek lokal. “Di Malang atau Garut, misalnya, ada AMDK yang punya merek sendiri,” jelas pria yang juga menjabat direktur hubungan pemerintah PT Aqua Golden Mississippi Tbk. itu.

Hendro menyebut saat ini volume produksi tertinggi masih dipegang oleh Aqua. Namun, dia mencatat, manuver bisnis paling menarik justru dilakukan produsen AMDK merek Club. “Mereka menyebar pabriknya. Ada yang di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Palembang, dan Banjarmasin. Mereka membuka pasar baru seraya mengurangi ongkos transportasi,” ulas Hendro.

Sumber : Warta Ekonomi

No comments:

Post a Comment