Thursday, 8 July 2010

SUMUR DAN PDAM, SUMBER AIR ISI ULANG


Beda dengan air minum dalam kemasan yang sumber airnya diambil langsung dari mata air di pegunungan, depot galon air isi ulang yang tersebar di Kendari ternyata menggunakan sumur bor, sumur gali dan PDAM sebagai sumber air baku utamanya. Dari sisi kesehatan, hal itu jelas mengkhawatirkan.
Pasalnya untuk dapat dikonsumsi, air baku seharusnya dipanaskan hingga suhu tertentu. Gunanya, untuk mematikan kuman dan bakteri penyebab penyakit yang kemungkinan terkandung di dalamnya. Sedangkan depot isi ulang, ternyata tidak dipanaskan melainkan hanya dilakukan proses sterilisasi. Proses tersebut diantaranya menggunakan desinfektan berupa ozonisasi dan radiasi ultra violet.

Tapi Dinkes menjamin air galon isi ulang aman dikonsumsi. Sekretaris Dinkes Kota Kendari Mardiana Muchtar, yang didampingi Kasi Bina Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan M.Syarif, mengatakan Dinkes Kendari selalu melakukan monitoring kepada depot air isi ulang.

Tiap tiga bulan sekali katanya, Dinkes "jemput bola" ke seluruh depot yang jumlahnya lebih dari 80, untuk melakukan pemeriksaan. Selain pemeriksaan terhadap kondisi mesin dan filter, Dinkes juga memeriksa kondisi fisika, kimia dan bakteriologi air sebelum dan sesudah produksi. "Air bakunya belum bisa dikonsumsi, tapi air jadinya, sudah layak konsumsi," katanya.

Kondisi fisika meliputi bau dan warna air, kondisi kimia berupa kandungan amoniak, nitrat, nitrit dan kandungan lainnya, sedangkan pemeriksaan bakteriologi meliputi bakteri yang berpotensi menyebabkan penyakit seperti e-coli dan lainnya.

"Kadang ada beberapa depot yang airnya positif mengandung kuman. Untuk yang terdeteksi, kita berikan penyuluhan tentang pengolahan air, dan mesinnya kita instruksikan untuk dibersihkan dan di cuci," ujarnya.

Menurut wanita berjilbab ini, bukan hal yang gampang untuk mendirikan depot air isi ulang. Berdasarkan Perda No 12 tahun 2009 tentang sertifikasi layak sehat rumah makan, restoran dan depot air minum, setiap pengusaha harus mengajukan permohonan untuk dapat sertifikat layak sehat.

Ketika ada permohonan, Dinkes akan turun lapangan untuk meninjau kondisi fisik bangunan tempat berusaha, mengambil sampel air baku dan air jadinya dan peralatan filterisasi. "Mulai dari awal, airnya kita uji di Labkes untuk memastikan tidak ada bakteri di dalamnya," tandasnya. (cr2)

Sumber : kendarinews.com

No comments:

Post a Comment